Sabtu, 02 Januari 2010

PERLENGKAPAN SEORANG KONSELOR

Konseling adalah talenta dan spiritual gift. Meskipun setiap individu pada saat-saat tertentu berperan sebagai konselor, tetapi konselor yang sejati haruslah ada bakat dan ada peran khusus yang telah dipercayakan Allah, yang dalam konteks gereja/tubuh Kristus adalah untuk ikut membangun tubuh Kristus dengan mengembalikan fungsi anggota-anggota tubuh yang lain (kadang-kadang sebagai pendamai, penasehat, pembangkit kesadaran diri, co-parakletos, dan sebagainya).

Secara umum kita dapat mengenali apakah kita memiliki talenta dan spiritual gift konseling, yaitu:
a. Kita adalah individu yang sangat tertarik dengan manusia (dengan 1001 macam aspek kehidupannya: tingkah laku, pikiran, bahkan keunikan kepribadiannya) sehingga selalu mengamati dan memikirkannya dan kemudian mempunyai drive untuk melengkapi pengetahuannya dengan membaca, teachable spirit dan belajar dengan sengaja.
b. Kita adalah individu yang sangat terbeban (punya spirit of compassionate dan care) sehingga punya drive untuk menolong, punya air mata untuk mereka yang menderita, dan selalu ready untuk menyediakan waktu khusus untuk orang-orang yang susah dan dalam pergumulan.
c. Kita adalah individu yang mempunyai kemampuan listening, emphaty, understanding, dan acceptance. Kita adalah individu yang punya stability dalam emosi, sehingga tidak hanyut melakukan transference atau counterconference, emosionally explosive, mengantikan emphaty dengan syimphaty, berjiwa narcissistic, tak dapat memelihara confidentiality dan berjiwa judgemental fundamentalistic.
d. Kita individu yang dapat membedakan antara panggilan dan tugas hamba Tuhan pemberita firman dengan konselor (yang tidak berkhotbah pada client-nya dan tidak berjiwa proselytism). Sehingga doa dan pembacaan Alkitab tidak dimanipulir untuk mempermudah penyelesaian masalah client.
e. Kita adalah individu yang mampu membedakan antara reaksi subjective atas precipitating factors (yang biasanya menjadi keluhan client, dan persoalan client yang sesungguhnya), predisposing factors (sehingga client melihat, menafsir dan bereaksi sedemikian rupa atas realita dalam kehidupannya, dan tidak terjebak dalam phenomena yang menjadi keluhan client.

Disamping itu konselor harus memiliki kemampuan, ketajaman dan ketepatan dalam melakukan diagnose persoalan client. Untuk itu konselor haruslah pribadi yang pernah belajar psychology (introduksi, developmental, personality, dan psikologi abnormal), dan mempunyai konsep teologi yang sehat. Konselor dapat memakai berbagai perlengkapan konseling seperti misalnya: memakai buku panduan konseling per telepon (konselor awam harus dibedakan dari konselor professional yang boleh memakai alat-alat tes, dan sebagainya). Konselor harus mempunyai skills misalnya: rephrasing, reframing, verbal, observation, focusing skills.

Tidak ada komentar: